RIADAT (AR-RIYADAH)

Dalam Tasawuf : latihan kerohanian dengan menjalankan ibadah dan menundukkan keinginan nafsu syahwat.
...
Menurut kalangan Tasawuf, riadat dalam arti tersebut pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika ber "Khalwat" di Gua Hira dengan melatih diri, mengasah jiwa, berzikir, merenung, memperhatikan kejadian alam dan susunannya, dan memperhatikan segala keadaan masyarakat yang penuh kejahilan dan kerusakan dalam berbagai aspek kehidupan.
...
keadaan masyarakat tersebut menimbulkan keprihatinan Nabi SAW yang mendalam. karena itu ia hidup serba prihatin. kemudian datanglah wahyu yang di bawa oleh jibril. Setelah menjadi rasul, ia tetap menjalankan riadat, melawan hawa nafsu (mujahadat, dan tekun beribadah seperti melakukan salat tahajud sampai jauh malam sehingga kakinya membengkak. ketika di tanyakan istrinya Aisyah, mengapa ia beribadah sekuat itu, Nabi SAW menjawab bahwa ia ingin menjadi hamba Allah SWT yang bersyukur, bukan karena ingin di ampuni dosa-dosanya
(HR. Ahmad bin Hanbal ).
...
Riadat dalam Tasawuf ada dua macam, yaitu riadat badan dan riadat rohani.
- Riadat badan di lakukan oleh seorang sufi atau pengamal tarekat dengan jalan mengurangi makan, mengurangi minum, mengurangi tidur, dan mengurangi berkata -kata.
- Riadat rohani biasanya melalui ibadah, seperti senantiasa dalam keadaan berwudu, rajin melakukan salat (baik fardu maupun sunah ),dan rajin mengamalkan zikir dan aneka ragam wirid.
...
Riadat yang di lakukan para sufi berbeda-beda sesuai dengan Tarekat yang di anutnya.Riadat di lakukan oleh para sufi untuk dapat dekat dan bermakrifat kepada Tuhan. Hal ini di lakukan secara bertahap sesuai dengan kekuatan batin masing-masing.
...
Seseorang yang akan melakukan riadat di haruskan untuk terlebih dahulu mempersiapkan kesucian lahiriah melalui iman, islam, dan ihsan. Ia harus memahami dengan sebaik-baiknya apa yang di maksud dengan rukun iman, seperti pengetahuan mengenai sifat-sifat Tuhan yang wajib dan jaiz, yang mustahil dan yang mungkin; pengetahuan tentang nubuat dan yang berhubungan dengan nabi-nabi, seperti sifat-sifatnya, Mukjizat, dan syafa'atnya ; pengetahuan mengenai malaikat; kitab suci; hari kiamat; dan kada dan kadar. Ia juga harus mengamalkan ajaran Islam yang wajib, seperti salat lima waktu dan puasa Ramadan, dan berupaya memahami hikmah -hikmah dari ibadah itu.
...
Dengan ihsan ia melakukan segala sesuatu dengan ikhlas karena Allah SWT.
...
Imam al -Gazali membagi tingkatan riadat menjadi enam tingkatan , yakni Musyaratah, Muraqabah, Muhasabah,Mu'aqabat An-nafs, Mujahadat, dan Mu'atabat an-nafs.
...
keenam macam riadat ini di sebutnya sebagai munjiyah (pemberi jalan keselamatan )dan murabatah (mengawasi diri dengan bantuan pengawasan Tuhan ).
Menurutnya murabatah ini di perintahkan Allah SWT dalam Al-Qur'an surah 'Ali Imran ayat 200 yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung."
...
Musyaratah sebagai tingkat riadat yang pertama adalah penetapan syarat-syarat bagi diri sendiri. Seseorang yang ingin melakukan riadat harus menetapkan syarat-syarat bagi dirinya yang harus di penuhi dan di laksanakannya,yaitu mengisi hari -harinya dan membagi waktu-waktunya dengan amalan yang berfaedah dan menjauhkan dosa-dosa besar dan kecil yang di dapat dari penyelewengan mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan, dan kaki.
...
Langkah Riadat yang kedua adalah muraqabah, yaitu pengawasan diri dengan keyakinan bahwa Allah SWT melihat semua yang di kerjakan seseorang. Selanjutnya meningkat ke tahap muhasabah, yaitu memperhitungkanuntung rugi dalam melakukan amal bagi diri sendiri.
...
Di antara alasan yang di kemukakan bagi tingkatan muhasabah ini ialah ucapan Umar bin khattab, yaitu :
"perhitungkanlah Dirimu sebelum engkau nanti di perhitungkan, perhitungkanlah kelakuanmu sebelum di masukkan ke dalam timbangan."
...
Muhasabah di lakukan untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang di perbuat, sehingga dengan demikian timbul kesadaran dalam diri untuk melakukan Mu'aqabah An-nafs, yaitu menghukum diri sendiri. Mu'aqabah An-nafs di lakukan sesuai keperluan latihan anggota tubuh. Misalnya, bila seorang sufi termakan makanan yang syubhat (meragukan )dengan penuh hawa Nafsu, ia menghukum perutnya dengan menahan lapar beberapa waktu lamanya atau bila matanya melihat yang haram maka matanya itu di siksanya dengan tidak melihat apa-apa dalam beberapa waktu.
...
Setelah Mu'aqabah An-nafs, seorang sufi baru memasuk Mujahadat, yaitu bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah. Dalam Mujahadat seorang sufi mengerjakan ibadah dengan segala wiridnya seolah lupa pada dirinya sendiri karena berharap segala amal ibadahnya diterima Allah SWT dan takut di tolak Allah SWT.
...
Imam Gazali menceritakan bahwa di antara sufi ada yang bersalat sampai seribu rakaat sehari dan ada yang tidak kuat lagi berdiri sehingga terpaksa bersalat sambil duduk. Menurut "HAMKA, "mujahadat di lakukan dengan berbagai cara, seperti :tafakur , bermenung dengan memicingkan mata serta menaikkan lidah ke langit -langit, lalu melakukan Zikir atau mengingat dan menyebut nama Allah SWT. Ini di lakukan untuk menambah asyik, rindu, dan dendam hendak pulang pada asal.
...
Riadat tingkat terakhir adalah Mu'atabah An-nafs yaitu menyesali dan mengecam diri sendiri karena kekurangan dalam beribadah kepada Allah SWT. Mu'atabah di lakukan dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu, karena dengan mengenal diri sendiri seorang sufi baru dapat bermakrifat dengan Tuhannya. Dengan pengenalan diri, seorang sufi melakukan mu'atabah dengan pengharapan dapat mencapai jiwa yang sempurna (an-nafs-al-kamilah) sebagai tingkatan jiwa yang tertinggi dari tujuh tingkatan jiwa dalam Tasawuf, yakni nafsu amarah, nafsu lawwamah, nafsu mutma'innah, nafsu mulhamah, nafsu radiah , nafsu mardiyah, dan terakhir nafsu kamilah.

Postingan populer dari blog ini

KUNCI RAHASIA KUN FAYAKUN

MA'UL HAYAT (air kehidupan)

NAFAS LAM JALALAH