AR-RUH DAN AN-NAFS (Jiwa dan Ruh)
Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara Ruh dan Jasad. Ruh berasal dari Alam Arwah dan memerintah dan menggunakan Jasad sebagai alatnya.
Sedangkan Jasad berasal dari Alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi.
...
Tetapi para Ahli sufi membedakan Ruh dan Jiwa.
Ruh berasal dari Tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke Asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena Ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam Jasad, ia tetap suci.
...
Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika Ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halnya dengan Jiwa.
...
Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi Jiwa pada :
Jiwa Nabati (tumbuh-tumbuhan)
Jiwa Hewani (binatang) dan
Jiwa Insani (Manusia)
...
Jiwa Nabati adalah kesempurnaan Awal bagi benda alami yang organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan.
...
Adapun Jiwa Hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa.
...
sedangkan Jiwa Insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah).
...
Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah).
Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.
Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki Jiwa Insani (berpikir), tetapi juga Jiwa Nabati dan Hewani, maka Jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia.
Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.
...
Apabila Jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada Jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut Jiwa yang menyuruh berbuat jahat.
...
Firman Allah : "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat."
(QS. 12: 53).
...
Apabila Jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut Jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah.
Hal ini ditegaskan oleh-Nya :
"Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela."
(QS. 75:2).
...
Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah).
Dalam hal ini Allah menegaskan :
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku,dan masuklah ke dalam Surga-Ku."
(QS. 89:27-30).
...
Jadi, Jiwa mempunyai tiga buah sifat, Yaitu Jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, Jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan Jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, Yaitu Jiwa Muthmainnah.
Dan Jiwa Muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk Syurga.
...
Jiwa Muthmainnah adalah Jiwa yang selalu berhubungan dengan Ruh.
Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci.
Sedangkan Jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen.
Allah sampaikan :
"Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan."
(QS.91:7-8).
...
Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.
...
Allah berseru kepada hamba-Nya :
"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya."
(QS.Al-Insyiqaq :6).
...
"Tidaklah Aku dapat dipandang oleh mata, tidak pula dapat dilihat oleh pandangan; Tidak pula Ilmu pengetahuan dapat menghampiri kepada-Ku;
Aku tidak dapat dikenal oleh sejauh pengenalan.
Aku Yang Maha Perkasa yang tidak dapat dicapai bagaimanapun, dan... tak dapat dijumpai walau dengan sebutan nama-Ku.
Setiap ucapan kata telah nampak bernyata, maka Akulah yang menciptakannya dan merangkai huruf-hurufnya.Tidak akan melampaui kesemuanya itu adalah bahasa-bahasa yang dikenal dan diketahui yang disifatkan. Aku adalah yang tidak dapat dijangkau dan diserupakan dengan apapun.
"Laisa Kamitslihi Syai'un"
...
"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat."
(QS. Asy-Syura : 11).
...
"Akulah Allah Yang Maha Suci yang tidak dapat dimasuki dan dijumpai oleh tubuh-tubuh dan tidak oleh huruf-huruf sekalipun dan tidak pula dapat dicapai oleh kalimat-kalimat".
...
Hai Hamba! Jangan salah terka bahwa setiap yang dhahir itu dapat dilihat... Akulah Raja yang menyata dengan Kemurahan dan tersembunyi dengan Keperkasaan.
...
Hai hamba!! Akulah Yang Dahir yang tidak dapat dilihat dan dipandang oleh mata, dan Akulah Yang Batin yang tidak dapat disentuh oleh prasangka dan persangkaan yang bagaimanapun.
...
Hai hamba! Akulah Yang Maha Kekal, yang mana kekekalan Ku tidak dapat diberitakan oleh abad; Dan Akulah Yang Esa yang jauh dari bilangan dan perhitungan".
...
"Setiap sesuatu akan dituntut oleh asal mulanya, sebagaimana tubuh dintuntut oleh asa mulanya. Yang Satu itu AKU, Yang Maha Tunggal dan sendirian, dan tidaklah Aku dari sesuatu lalu sesuatu itu akan menuntut pada-Ku.
...
Dan tidaklah Aku dengan sesuatu, maka sesuatu itu akan menyertai Ku. Aku adalah mutlak, tiada satu pun ikatan, dan Aku bebas tanpa ada sesuatu yang menentukan".
...
(di ambil dari AL-MAWAQIF WAL MUKHOTOBAT ulasan ABDUL HASAN ASY-SYADZILI)
Sedangkan Jasad berasal dari Alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi.
...
Tetapi para Ahli sufi membedakan Ruh dan Jiwa.
Ruh berasal dari Tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke Asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena Ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam Jasad, ia tetap suci.
...
Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika Ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halnya dengan Jiwa.
...
Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi Jiwa pada :
Jiwa Nabati (tumbuh-tumbuhan)
Jiwa Hewani (binatang) dan
Jiwa Insani (Manusia)
...
Jiwa Nabati adalah kesempurnaan Awal bagi benda alami yang organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan.
...
Adapun Jiwa Hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa.
...
sedangkan Jiwa Insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah).
...
Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah).
Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.
Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki Jiwa Insani (berpikir), tetapi juga Jiwa Nabati dan Hewani, maka Jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia.
Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.
...
Apabila Jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada Jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut Jiwa yang menyuruh berbuat jahat.
...
Firman Allah : "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat."
(QS. 12: 53).
...
Apabila Jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut Jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah.
Hal ini ditegaskan oleh-Nya :
"Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela."
(QS. 75:2).
...
Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah).
Dalam hal ini Allah menegaskan :
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku,dan masuklah ke dalam Surga-Ku."
(QS. 89:27-30).
...
Jadi, Jiwa mempunyai tiga buah sifat, Yaitu Jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, Jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan Jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, Yaitu Jiwa Muthmainnah.
Dan Jiwa Muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk Syurga.
...
Jiwa Muthmainnah adalah Jiwa yang selalu berhubungan dengan Ruh.
Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci.
Sedangkan Jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen.
Allah sampaikan :
"Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan."
(QS.91:7-8).
...
Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.
...
Allah berseru kepada hamba-Nya :
"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya."
(QS.Al-Insyiqaq :6).
...
"Tidaklah Aku dapat dipandang oleh mata, tidak pula dapat dilihat oleh pandangan; Tidak pula Ilmu pengetahuan dapat menghampiri kepada-Ku;
Aku tidak dapat dikenal oleh sejauh pengenalan.
Aku Yang Maha Perkasa yang tidak dapat dicapai bagaimanapun, dan... tak dapat dijumpai walau dengan sebutan nama-Ku.
Setiap ucapan kata telah nampak bernyata, maka Akulah yang menciptakannya dan merangkai huruf-hurufnya.Tidak akan melampaui kesemuanya itu adalah bahasa-bahasa yang dikenal dan diketahui yang disifatkan. Aku adalah yang tidak dapat dijangkau dan diserupakan dengan apapun.
"Laisa Kamitslihi Syai'un"
...
"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat."
(QS. Asy-Syura : 11).
...
"Akulah Allah Yang Maha Suci yang tidak dapat dimasuki dan dijumpai oleh tubuh-tubuh dan tidak oleh huruf-huruf sekalipun dan tidak pula dapat dicapai oleh kalimat-kalimat".
...
Hai Hamba! Jangan salah terka bahwa setiap yang dhahir itu dapat dilihat... Akulah Raja yang menyata dengan Kemurahan dan tersembunyi dengan Keperkasaan.
...
Hai hamba!! Akulah Yang Dahir yang tidak dapat dilihat dan dipandang oleh mata, dan Akulah Yang Batin yang tidak dapat disentuh oleh prasangka dan persangkaan yang bagaimanapun.
...
Hai hamba! Akulah Yang Maha Kekal, yang mana kekekalan Ku tidak dapat diberitakan oleh abad; Dan Akulah Yang Esa yang jauh dari bilangan dan perhitungan".
...
"Setiap sesuatu akan dituntut oleh asal mulanya, sebagaimana tubuh dintuntut oleh asa mulanya. Yang Satu itu AKU, Yang Maha Tunggal dan sendirian, dan tidaklah Aku dari sesuatu lalu sesuatu itu akan menuntut pada-Ku.
...
Dan tidaklah Aku dengan sesuatu, maka sesuatu itu akan menyertai Ku. Aku adalah mutlak, tiada satu pun ikatan, dan Aku bebas tanpa ada sesuatu yang menentukan".
...
(di ambil dari AL-MAWAQIF WAL MUKHOTOBAT ulasan ABDUL HASAN ASY-SYADZILI)