MARTABAT ALAM INSAN
"Berawal Alam Insan ini terkandung dalam AHAD Yaitu SATU, dalam keadaan itu Terkumpul-lah seluruh proses Perwujudan Diri Rahasia Allah SWT. di dalam Tubuh atau badan Insan yang telah bernafas dan dilahirkan-lah ke Alam Dunia ini.
.
Dari sini dapat di-simpulkan bahwa Alam Insan ini merupakan suatu Alam yang mengumpulkan Proses-proses Pernyataan (Alam-Alam)
Karena hal ini merupakan per-kumpulan seluruh Alam-Alam lain, maka mulai Alam ini juga tugas Manusia untuk Mengembalikan(balik) Kembali Diri Rahasia Allah kepada Tuan Empunya Diri, dan proses penyerahan kembali Diri Rahasia itu, hendaklah dimulai dan disiapkan dari Alam Dunia ini.
.
Sesungguhnya tujuan utama kita mengkaji Martabat Alam Insan ini adalah untuk memahami dengan suatu pegangan yang mutlak bahwasanya diri kita ini sebenar-benarnya bukan diri kita.
Kita harus-lah mengetahui pada hakekatnya dari mana Asal Usul diri kita ini sebenarnya sehingga hadir di Alam Dunia ini, disamping itu kita juga harus mengetahui kemana diri kita harus dikembalikan dan apa pula tujuan kita dizahirkan ke muka bumi ini.
.
Sesungguhnya, dengan memahami tentang Martabat Alam Insan maka sudah pasti kita dapat memahami bahwa diri kita adalah Sifat Allah SWT semata-mata.
Diri SifatNya-lah yang ditajallikan untuk menyatakan Dirinya sendiri.
.
Sesungguhnya Allah SWT, Tuhan semesta Alam menyatakan Dirinya (Dzat-Nya) dengan Sifat-Nya sendiri Yaitu pada Alam Shagir dan Alam Kabir, dan sesungguhnya Allah SWT memuji dirinya dengan Asma-Nya sendiri dan menguji Sifat-Nya dengan Af'al-Nya sendiri.
.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran :
"LAA ILLAHA ILLA HUA KULLI SYAIN KHALIK ILLA WAJHAT LAHULL HUKMU WAILAIHI TURJA'UN"
"Tiada yang nyata (pada Alam Shagir dan Alam Kabir) kecuali Dzat-Nya semata-mata, sesungguhnya setiap yang Wujud dan Zahir ini Tiada, kecuali Wujud Wajah-Nya semata-mata, sesungguhnya Dia sajalah yang ber-haq atas sesuatu dan kepadaNya-lah harus dikembalikan".
(Surah Al-Qasaf ayat 77)
.
Pembahasan-pembahasan dalam Martabat Alam Insan sebenarnya adalah kita membicarakan hal tentang diri kita sendiri, yaitu diri kita sebagai Sifat Allah SWT. yang ditajalikan daripada Alam Gaibul Gaib (Martabat Ahdah) hingga Zahirnya diri kita yang bersifat diri Muhammad.
.
Oleh karena itu sadarilah bahwa Wujud dan Zahirnya diri kita ini bukanlah sekali-kali diri kita melainkan sebenarnya diri Allah yang menyatakan kepada DIA Tuhan semesta Alam semata-mata.
.
Ketika kita membicarakan Hakekat Usul Diri kita, maka banyak orang mengatakan bahwa diri kita adalah dari Adam as, akan tetapi jarang sekali orang bertanya dari mana Hakekat Usul Diri Adam as.
.
Tentunya persoalannya menjadi rumit bukan?
Persoalan-persoalan beginilah yang sering digantung oleh para ulama syareat.
Kalaulah Jasad Adam as dari segumpal tanah hitam? Maka dari mana pula Usul Diri Adam as itu sendiri (diri bhatin)?
Tetapi apabila kita memahami perbincangan tentan Martabat Alam Insan ini, maka tentunya kita dapat memahami Hakekat Usul Diri kita sebenarnya, oleh sebab itu betapa pentingnya pembahasan Martabat Alam Insan ini dipahami secara mendalam, terutama bagi kita yang sedang menuju kepada Allah SWT. menelusuri jalan Hakekat dan Makrifattullah.
.
Marilah kita sadar bersama, bahwasanya diri kita adalah Sifat diri Tuhan Semesta Alam jua, tiada diri kita sebenarnya hanya diriNya semata-mata, kita datang dari alam Gaibul Gaib pada Martabat Ahdah, Nyata dan Zahirnya kita sebagai SifatNya pada Martabat Alam Insan
(tubuh manusia itu sendiri)
.
Seperti firman Allah dalam Al-Qur'an :
"INNALILLAHI WAINNA ILLAIHI ROJI'UN"
"Sesungguhnya dirimu itu Allah (Tuhan asal dirimu) dan hendak-lah kamu pulang menjadi Tuhan kembali".
.
Jadi, Dengan memahami secara mutlak perbincangan kita ini, maka sudah pastilah kita mengetehui bahwa Asal kita adalah Tuhan pada Martabat Ahdah dan Nyatanya kita sebagai SifatNya pada Martabat Alam Insan dan sesungguhnya dari Martabat Alam Insan inilah kita harus berangkat mensucikan sifat diri kita ini dari Martabat Sifat kepada Martabat Tuhan kembali yaitu Martabat Asal Diri kita itu sendiri.
.
Jika diibaratkan diri kita ini Asalnya Air maka kita sekarang berada didalam bentuk Sifat Air yang membeku maka menjadi tanggung jawab kita mengembalikan Diri kita dari Air yang membeku hancur (melebur) menjadi Air semula seperti sedia kala.
.
Dari sini dapat di-simpulkan bahwa Alam Insan ini merupakan suatu Alam yang mengumpulkan Proses-proses Pernyataan (Alam-Alam)
Karena hal ini merupakan per-kumpulan seluruh Alam-Alam lain, maka mulai Alam ini juga tugas Manusia untuk Mengembalikan(balik) Kembali Diri Rahasia Allah kepada Tuan Empunya Diri, dan proses penyerahan kembali Diri Rahasia itu, hendaklah dimulai dan disiapkan dari Alam Dunia ini.
.
Sesungguhnya tujuan utama kita mengkaji Martabat Alam Insan ini adalah untuk memahami dengan suatu pegangan yang mutlak bahwasanya diri kita ini sebenar-benarnya bukan diri kita.
Kita harus-lah mengetahui pada hakekatnya dari mana Asal Usul diri kita ini sebenarnya sehingga hadir di Alam Dunia ini, disamping itu kita juga harus mengetahui kemana diri kita harus dikembalikan dan apa pula tujuan kita dizahirkan ke muka bumi ini.
.
Sesungguhnya, dengan memahami tentang Martabat Alam Insan maka sudah pasti kita dapat memahami bahwa diri kita adalah Sifat Allah SWT semata-mata.
Diri SifatNya-lah yang ditajallikan untuk menyatakan Dirinya sendiri.
.
Sesungguhnya Allah SWT, Tuhan semesta Alam menyatakan Dirinya (Dzat-Nya) dengan Sifat-Nya sendiri Yaitu pada Alam Shagir dan Alam Kabir, dan sesungguhnya Allah SWT memuji dirinya dengan Asma-Nya sendiri dan menguji Sifat-Nya dengan Af'al-Nya sendiri.
.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran :
"LAA ILLAHA ILLA HUA KULLI SYAIN KHALIK ILLA WAJHAT LAHULL HUKMU WAILAIHI TURJA'UN"
"Tiada yang nyata (pada Alam Shagir dan Alam Kabir) kecuali Dzat-Nya semata-mata, sesungguhnya setiap yang Wujud dan Zahir ini Tiada, kecuali Wujud Wajah-Nya semata-mata, sesungguhnya Dia sajalah yang ber-haq atas sesuatu dan kepadaNya-lah harus dikembalikan".
(Surah Al-Qasaf ayat 77)
.
Pembahasan-pembahasan dalam Martabat Alam Insan sebenarnya adalah kita membicarakan hal tentang diri kita sendiri, yaitu diri kita sebagai Sifat Allah SWT. yang ditajalikan daripada Alam Gaibul Gaib (Martabat Ahdah) hingga Zahirnya diri kita yang bersifat diri Muhammad.
.
Oleh karena itu sadarilah bahwa Wujud dan Zahirnya diri kita ini bukanlah sekali-kali diri kita melainkan sebenarnya diri Allah yang menyatakan kepada DIA Tuhan semesta Alam semata-mata.
.
Ketika kita membicarakan Hakekat Usul Diri kita, maka banyak orang mengatakan bahwa diri kita adalah dari Adam as, akan tetapi jarang sekali orang bertanya dari mana Hakekat Usul Diri Adam as.
.
Tentunya persoalannya menjadi rumit bukan?
Persoalan-persoalan beginilah yang sering digantung oleh para ulama syareat.
Kalaulah Jasad Adam as dari segumpal tanah hitam? Maka dari mana pula Usul Diri Adam as itu sendiri (diri bhatin)?
Tetapi apabila kita memahami perbincangan tentan Martabat Alam Insan ini, maka tentunya kita dapat memahami Hakekat Usul Diri kita sebenarnya, oleh sebab itu betapa pentingnya pembahasan Martabat Alam Insan ini dipahami secara mendalam, terutama bagi kita yang sedang menuju kepada Allah SWT. menelusuri jalan Hakekat dan Makrifattullah.
.
Marilah kita sadar bersama, bahwasanya diri kita adalah Sifat diri Tuhan Semesta Alam jua, tiada diri kita sebenarnya hanya diriNya semata-mata, kita datang dari alam Gaibul Gaib pada Martabat Ahdah, Nyata dan Zahirnya kita sebagai SifatNya pada Martabat Alam Insan
(tubuh manusia itu sendiri)
.
Seperti firman Allah dalam Al-Qur'an :
"INNALILLAHI WAINNA ILLAIHI ROJI'UN"
"Sesungguhnya dirimu itu Allah (Tuhan asal dirimu) dan hendak-lah kamu pulang menjadi Tuhan kembali".
.
Jadi, Dengan memahami secara mutlak perbincangan kita ini, maka sudah pastilah kita mengetehui bahwa Asal kita adalah Tuhan pada Martabat Ahdah dan Nyatanya kita sebagai SifatNya pada Martabat Alam Insan dan sesungguhnya dari Martabat Alam Insan inilah kita harus berangkat mensucikan sifat diri kita ini dari Martabat Sifat kepada Martabat Tuhan kembali yaitu Martabat Asal Diri kita itu sendiri.
.
Jika diibaratkan diri kita ini Asalnya Air maka kita sekarang berada didalam bentuk Sifat Air yang membeku maka menjadi tanggung jawab kita mengembalikan Diri kita dari Air yang membeku hancur (melebur) menjadi Air semula seperti sedia kala.